Kamis, 16 Agustus 2018

LATIH KECERDASAN FINASIAL BUAH HATI

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Apa khabar ayah bunda 

kali ini saya mencoba mencopy paste catatan yang tanpa sengaja saya temukan berupa arsip  power point di laptop saya. Beberapa tahun lalu saya diberi kesempatan oleh sebuah lembaga pendidikan Islam di Temanggung untuk mengisi kegiatan Parenting yang diikuti oleh wali murid dan peserta di luar keluarga besar Sekolah Islam tersebut. Sempat bingung, kiranya materi apa yang sederhana namun menarik untuk didiskusikan bersama orang tua murid dan pendidik di wilayah Temanggung ini dan jadilah sebuah tema sederhana yang sering menggelitik para orang tua di perjalanan mereka dalam mengasuh buah hati yang juga saya alami saat anak anak masih kecil dan bahkan saat saya sudah memiliki cucu :) yaitu "MELATIH KECERDASAN FINANSIAL BUAH HATI"



Ayah bunda... langkah awal memasuki materi ini, saya ingin menanyakan satu pertanyaan ....
MASALAH APA YANG SERING TIMBUL SAAT KEGIATAN SHOPING BERLANGSUNG BERSAMA BUAH HATI ??


wahhh... ternyata hampir semua yang hadir bersepakat dengan jawaban di bawah ini :
1. Anak rewel saat meminta / menginginkan sesuatu
2. Akhirnya belanja besar pasak daripada tiang (demi nuruti anak)



KECERDASAN FINANSIAL DENGAN MEMBANGUN KESADARAN FINANSIAL

    Sebenarnya sejak Usia Dini, orang tua sudah bisa mengajarkan buah hatinya untuk cerdas dalam mengelola uang. Tidak ada kata terlambat jika orang tua mulai menyadari bahwa melatih anak untuk membangun  kesadaran financial sangat diperlukan, terlebih jika anak sudah terbiasa dengan semua keinginannya selalu dituruti dengan senjata ampuhnya yaitu : merajuk, menangis bahkan sampai bisa menyakiti diri sendiri atau orang yang berada disekitarnya. Bayangkan apa yang terjadi ketika anak menjelang dewasa ? anak akan memaksakan kehendaknya sesuai daya pikir di usianya, sering kita temukan kasus di mana seorang pemuda rela membakar ibunya hanya karena meminta uang sekian ribu rupiah. Astaghfirullahal`adzim
Tips untuk membangun kesadaran financial buah hati
a.Kesepakatan suami istri
  Hendaknya orang tua berembug untuk membuat kesepakatan mengenai tujuan membangun kecerdasan financial anak, apa dan bagaimana sehingga ketika menghadapi si anak yang mulai merajuk, ayah dan ibu kompak dalam memutuskan sikap.
  b.Kesepakatan orang tua dan anak
  Buat kesepakatan dengan anak ,aturan ketika akan bepergian ke supermarket, misal
  -karena minggu lalu adek sudah beli mainan, maka minggu ini kita tidak beli mainan hanya membeli susu,
   -adek boleh beli mainan tapi dengan harga tidak lebih dari  Rp. 25.000
   sesekali beri uang pada si anak dengan nilai uang yg sudah disepakati, biarkan anak memilih mainan atau kebutuhan yang diinginkan,biarkan anak membuat keputusan tentang apa yang diinginkan . jika harga yang akan dibeli anak melebihi uang yang dipegang, suruh anak untuk mengambil sesuai dengan uang yang di bawa. Biarkan pula anak membayar sendiri barang belanjaanya. Lakukan ini berulang-ulang setiap ada kesempatan hingga anak mengerti konsep uang sebagai alat tukar.
Melek Finansial
Melek financial bisa menumbuhkan disiplin anak dan membantunya mengelola uang yang tepat kelak, caranya :
   Kenalkan apa itu uang
  Pada awalnya uang diajarkan sebagai alat tukar. Anak usia tiga tahun sudah mulai mengenal konsep jual beli. Mereka bisa menukarkan uang dengan berbagai benda yang mereka inginkan, seperti mainan, makanan, dan minuman.
  Tips mengenalkan uang :
  -Beri penjelasan
  -Latih untuk kelola uang
  -hindari katatak punya uang
  -membuat komitmen bersama
Tabungan dan Investasi dunia dan akhirat
Menabung berarti mengumpulkan uang untuk suatu tujuan tertentu dalam kurun waktu tertentu. Menabung berkaitan erat dengan kedisiplinan. Sebelum usia sekolah, celengan bisa dijadikan sarana latihan. Setelah usia sekolah, biasakanlah untuk memberikan target tabungan dalam jangka waktu tertentu sehingga mengisi tabungan menjadi rutin.buat menabung menjadi aktifitas yang menyenangkan jangan sampai anak menganggap bahwa menabung sama saja dengan merampas uang mereka dengan melarang mereka untuk membelanjakan

Investasi dunia berarti mengharapkan hasil atau keuntungan dari pokok yang ditanamkan berupa uang /nominal . libatkan anak-anak pada usaha orang tuanya, seperti diikutkan dalam menjaga toko. Melibatkan anak dalam kegiatan usaha orang tua merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan kecerdasan finansial anak`Tapi perlu diingat, bahwa kegiatan anak tersebut dalam rangka pendidikan bukan murni berbisnis.berikan juga pengertian bahwa

Investasi akhirat berarti menjelaskan kepada anak bahwa setiap bekerja tidak melulu menghasilkan uang. Libatkan anak pada kegiatan social yang kita lakukan. Secara uang kita tidak dapat, tapi insyaallah kelak menjadikan tabungan kita di akhirat dan mendapat pahala dari ALLAH.

Kebebasan untuk mengambil keputusanSelama masih dalam batas perilaku yang dibolehkan, anak sebaiknya diperbolehkan untuk mengambil keputusan sendiri dan kita mungkin bisa menawarkan saran berdasarkan pengalaman terhadap keputusannya.

Orang tua sebagai teladan

“Air cucuran jatuhnya ke pelimbahan juga”, begitula seorang anak maka begitulah juga orang tuanya. Seorang anak memang cerminan sifat dan kebisaan orang tuanya, hampir seperti salinan atau fotocopy. Jadi lakukanlah hal hal yang sesuai dengan apa yang kita ajarkan kepada anak kita, jangan hal yang sebaliknya.

Asah naluri bisnis
Psikolog anak, Seto Mulyadi yang akrab dipanggil Kak Seto, mengatakan bahwa orang tua perlu memberi apresiasi terhadap inisiatif anak untuk berbisnis. Inisiatif ini menunjukkan bahwa si anak sudah memiliki kecerdasan finansial. Bahkan ia menyarankan untuk melibatkan anak-anak pada usaha orang tuanya, seperti diikutkan dalam menjaga toko. Melibatkan anak dalam kegiatan usaha orang tua merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan kecerdasan finansial anak.
Mengenalkan anak dengan dunia bisnis memang baik untuk membentuk jiwa kewirausahaan. Tapi perlu diingat, bahwa kegiatan anak tersebut dalam rangka pendidikan bukan murni berbisnis. Andaikan merugi kita tidak boleh memarahinya. Anggap saja kerugian tersebut sebagai ongkos pembelajaran yang sangat berharga bagi anak. Lebih baik gagal berusaha ketika masih kecil, ketimbang sudah besar baru belajar merasakan .

Ajak Anak-anak Menabung
Mendidik anak untuk menabung sejak usia muda tidaklah mudah. Untuk itu perlu pembelajaran yang matang mulai dari anak kecil. Tidak semua orang mempunyai keterampilan untuk mengelola keuangan, sehingga harus diajarkan dan dibiasakan. Keterampilan ini harus dibiasakan sejak dini. Dan bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan mengelola keuangan secara mendasar bagi anak-anak. Anak-anak dapat paham bagaimana mengelola keuangan mereka dengan bijaksana di usia dini.Jadikan kegiatan menabung menjadi sesuatu yang menyenangkan karena tanpa sadar sering memaksa anak untuk menabung tiap kali mereka punya uang lebih dari nenek,kakek,paman,bibi atau dari kita sendiri.
Buat kesepakatan antara anak dan orang tua. Misalnya, hasil tabungan tak boleh seluruhnya dibelanjakan. Dan jika anak hendak membeli sesuatu yang harus membuka celengannya, maka ibu atau ayah harus tahu, karena anak-anak belum bisa menghitung nilai nominal dengan baik, jadi ayah atau ibu harus mendampingi. Ajarkan anak untuk menyisihkan uangnya untuk berbagi dengan sesama agar anak tidak hanya memikirkan kebutuhannya sendiri tapi mulai belajar untuk peduli dengan sesama dari hasil yang didapat.

Kesalahan Financial
a.Menunggu hingga berusia dewasa untuk mulai menabung. Menabung seharusnya dilakukan sejak dini setiap bulannya. Justru dengan menabung sejak usia belia akan semakin mempermudah kehidupan anak nantinya karena sudah memiliki dana lebih dan terbiasa untuk menabung.

b.memberikan uang bulanan kepada anak namun tidak mengajarkan anak untuk mengelolanya . 

Tips jika anak merajuk  demi  terpenuhi keinginannya :
1.Ingatkan anak tentang kesepakatan yang sudah dibuat
2.Jika anak mulai merajuk (mengeluarkan jurus ampuhnya) ,diamkan sejenak kemudian ajak anak pulang sesuai kesepakatan sambil pura pura meninggalkannya.“yukkk kita pulang saja, karena ternyata adek belum bisa menahan keinginannya!” biasanya anak akan mengikuti meski masih dengan merajuk. Tapi jika anak tetap di tempat, gendong, bawa keluar dari area perbelanjaan, sesekali usap punggungnya hingga anak tenang , jangan sampai dimarahi .
3.Setelah tenang, bahas lagi tentang kesepakatan yang sudah di buat
4. intinya, apa yang sudah disepakati, lakukan dengan komitmen antara ayah dan ibu. Ayah-ibu dan anak.


Tips Mengoptimalkan Kecerdasan Financial Anak
- Asah naluri bisnis
Psikolog anak, Seto Mulyadi yang akrab dipanggil Kak Seto, mengatakan bahwa orang tua perlu memberi apresiasi terhadap inisiatif anak untuk berbisnis. Inisiatif ini menunjukkan bahwa si anak sudah memiliki kecerdasan finansial. Bahkan ia menyarankan untuk melibatkan anak-anak pada usaha orang tuanya, seperti diikutkan dalam menjaga toko. Melibatkan anak dalam kegiatan usaha orang tua merupakan cara yang efektif untuk meningkatkan kecerdasan finansial anak.
Mengenalkan anak dengan dunia bisnis memang baik untuk membentuk jiwa kewirausahaan. Tapi perlu diingat, bahwa kegiatan anak tersebut dalam rangka pendidikan bukan murni berbisnis. Andaikan merugi kita tidak boleh memarahinya. Anggap saja kerugian tersebut sebagai ongkos pembelajaran yang sangat berharga bagi anak. Lebih baik gagal berusaha ketika masih kecil, ketimbang sudah besar baru belajar merasakan .
- Ajak Anak-anak Menabung
Mendidik anak untuk menabung sejak usia muda tidaklah mudah. Untuk itu perlu pembelajaran yang matang mulai dari anak kecil. Tidak semua orang mempunyai keterampilan untuk mengelola keuangan, sehingga harus diajarkan dan dibiasakan. Keterampilan ini harus dibiasakan sejak dini. Dan bertujuan untuk memberikan pengetahuan dan keterampilan mengelola keuangan secara mendasar bagi anak-anak. Anak-anak dapat paham bagaimana mengelola keuangan mereka dengan bijaksana di usia dini.Jadikan kegiatan menabung menjadi sesuatu yang menyenangkan karena tanpa sadar sering memaksa anak untuk menabung tiap kali mereka punya uang lebih dari nenek,kakek,paman,bibi atau dari kita sendiri.

Buat kesepakatan antara anak dan orang tua. Misalnya, hasil tabungan tak boleh seluruhnya dibelanjakan. Dan jika anak hendak membeli sesuatu yang harus membuka celengannya, maka ibu atau ayah harus tahu, karena anak-anak belum bisa menghitung nilai nominal dengan baik, jadi ayah atau ibu harus mendampingi. Ajarkan anak untuk menyisihkan uangnya untuk berbagi dengan sesama agar anak tidak hanya memikirkan kebutuhannya sendiri tapi mulai belajar untuk peduli dengan sesama dari hasil yang didapat.


Kesimpulan :
a.  Kecerdasan finansial bisa diajarkan sejak usia dini
b.  Untuk menjadikan buah hati cerdas secara finansial dimulai dengan melatih kesadaran finansial
c.  Daripada menularkan gaya hidup konsumtif pada anak, lebih baik mendidik anak cerdas finansial dengan berhemat dan menabung. Semakin banyak orang yang mengetahui manfaat kontrol terhadap apa yang ingin dikeluarkan dengan berhemat, dan menabung, insyaAllah semakin banyak manfaat yang dirasakan dalam menjawab banyaknya persoalan ekonomi pada kehidupan masyarakat saat ini. Dan akhirnya berdampak positif pula pada kualitas tumbuh kembang anak sebagai generasi anak bangsa dimasa depan.

     Mari menerapkan resep hidup cerdas finansial, agar persoalan ekonomi dan kualitas tumbuh kembang anak Bangsa dapat teratasi.
:
:



Tidak ada komentar:

Posting Komentar