Minggu, 09 September 2018

TEMPER TANTRUM PADA ANAK USIA DINI

Ayah - Bunda, mungkin sering kita melihat di sekitar kita atau di lembaga PAUD ada kasus di mana beberapa anak menunjukkan sikap dan perilaku yang tidak terkontrol dengan menangis, menjerit jerit sambil bergulingan di lantai  atau Pendidik anak usia dini sering dibuat bingung sampai frustasi dalam menyikapi anak yang berperilaku demikian. Berbagai tindakan membujuk anak sudah dilakukan tapi tetap saja tak berpengaruh bahkan semakin hari semakin parah.


Apa itu TEMPER TANTRUM ?

Temper Tantrum (Tantrum) atau ngamuk adalah usaha anak untuk mengekspresikan bahwa ada kebutuhannya yang tidak terpenuhi atau karena frustasi dan belum mampu mengungkapkan keinginannya. 
Anak yang Temper Tamtrum biasanya berperilaku sangat emosional dan lepas kontrol, itu terjadi sebagai cetusan keinginannya yang tidak tercapai. Temper Tantrum yang terjadi pada anak adalah suatu ledakan emosi yang sangat kuat sekali , perilaku ini disertai rasa marah, serangan agresif menangis, berteriak, menghentak hentakkan kaki dan tangan pada lantai atau tanah. Perilaku Temper Tantrum ini menjadi reaksi berlebihan pada anak hingga dapat menjadi bahaya karena anak bisa merusak barang, melempar benda yang ada di dekatnya atau memukul orang terdekatnya.
Temper Tantrum paling sering terjadi di rentang usia 2 - 4 tahun karena anak belum mampu menyampaikan keinginan secara verbal ataupun non verbal. Karena kesal, ia jadi marah kemudian mengamuk.




Suatu contoh kasus Temper Tantrum  pada anak usia dini

Nina (nama samaran) usia 4 tahun  adalah pindahan dari PAUD lain, bundanya menitipkan ke PAUD kami karena alasan agar Nina dapat dididik lebih mandiri sesuai tahapan usianya. Beberapa hari di  sekolah Nina masih ditemani bundanya  sesekali menangis apabila pandangan matanya lepas dari sosok bundanya yang berusaha perlahan lahan meninggalkannya karena bundanya juga bekerja dan di lembaga kami tidak ada orang tua yang menunggui anaknya. 
Beberapa hari kedepan kami bersepakat agar Nina saat sampai di sekolah bundanya segera memasrahkan kepada kami dan biar kami yang mengatasinya. Dan yang terjadi,  di setiap paginya Nina akan menangis histeris, berteriak dan menghentak hentakkkan kakinya sambil bernegosiasi dengan bundanya. "ibuk di sini saja ya...jangan pergi...nanti beli es ya ..." dan bundanya mengangguk mengiyakan saja apa yang dikatakan Nina. kami mengamati setiap jalinan komunikasi antara anak dan orang tua dan menjadi catatan kami untuk mulai mencari akar permasalahannya.Di kelas sering tiba tiba Nina menangis histeris "nanti pulang to?...aku nggak mau makan, sakit perut, si ini nakal (padahal teman temannya tidak mengganggunya). Dalam setiap pertemuan , setiap menginginkan sesuatu ataupun ada hal yang tidak disukai Nina pasti berteriak dan menangis histeris. Semua Pendidik tak mampu membujuknya karena justru menangisnya akan menjadi jadi. 

Hal yang kemudian kami lakukan adalah sharing  dengan ibundanya bagaimana sebenarnya pola asuh di rumah juga pola didik saat Nina sekolah di PAUD yang juga merupakan aktifitas Bundanya sebagai pendidik. 
Fakta yang kami temukan :
1. Di Rumah
a. Nina lebih sering di asuh neneknya dengan didikan yang keras, sedang bundanya kebalikannya (model pengasuhan yang tidak sinkron)
b. Nina terbiasa selalu mendapatkan apa yang diinginkannya dan selalu menjadi yang nomer satu.
c. Nina terbiasa mendengarkan beragam janji dengan tujuan agar Nina menurut,  entah janji itu dilaksanakan atau tidak pokoknya penuh dengan janji - janji. 
d. Nina terbiasa bernegosiasi dengan orang terdekat  namun berakhir dengan kemauan Nina yang dimenangkan ,tujuannya  asal Nina diam.

2. Di PAUD sebelumnya
a. Sedari kecil Nina tidak pernah berpisah dari bundanya yang juga sebagai pendidik di PAUD tersebut
b. Ada hak istemewa sebagai anak pendidik di PAUD tersebut mengenai aturan atau tata tertib yang menjadikan Nina berbuat sesuai keinginan dan kenyamanannya. 

Dari hasil komunikasi dengan orang tuanya maka ada beberapa hal yang bisa kami usahakan untuk membantu menghilangkan Temper Tantrum pada kasus Nina 
1. Nina harus mengerti  bahwa kami semua Pendidik Sekolah Alam Lembah Sroyo menyayanginya 
Tindakan yang kami lakukan : saat sedang tenang dan merespon positif kegiatan di sekolah kami peluk dan katakan bahwa bunda menyayanginya.
2. Nina belajar bahwa tidak semua yang diinginkannya harus di dapat paling awal 
Tindakan yang kami lakukan  : Nina belajar antri saat ke kamar mandi, saat mengambil makanan, saat bergiliran berbicara dll . Meski menangis tetap kami gilir,  kadang berada di posisi terdepan kadang berada di posisi terakhir atau sesuai absen kehadiran.
3.Tidak ada janji apapun saat Nina menurut.
Hal yang kami lakukan : mengacungkan ibu jari, tersenyum dan memuji secukupnya. 
4. Saat Nina mulai bernegosiasi (biasanya tiba tiba menangis) "bunda, aku mau pulang sekarang ya? " padahal jam kegiatan masih berakhir beberapa jam lagi atau "bunda aku nggak mau makan itu" padahal makanan terus saja dimasukkan ke dalam mulutnya.
Tindakan  yang kami lakukan :  "jam pulang berakhir jam 11, semua pulang sesuai jadwal kepulanganya, ibu juga jemputnya jam 11." jika Nina berusaha bernego, cukup katakan dengan lembut dan tegas "jam 11". Saat menolak makanan  " makanannya dihabiskan karena itu rejeki dari Allah" beri masukan saat kiondisi Nina sedang tenang ,tidak perlu membujuk saat anak sedang tantrum. Terima sebagai usahanya untuk mengekspresikan perasaannya. 

Kenali tahapan sebelum anak mulai Tantrum. Bukan berarti harus dituruti semua. Jika anak sudah bisa negosiasi, lakukan sebelum ia marah. 
Konsistensi penanganan Tantrum sangatlah penting, juga kemampuan anak untuk komunikasi harus berkembang sejalan. Jangan label Tantrum atau ngamuk sebagai bandel atau nakal. Ajarkan anak untuk mengenal emosi dan reaksi yang tepat saat menginginkan sesuatu.
Cara menangani Tantrum adalah tetap tenang. Prinsipnya adalah abaikan, selama aman. Pesan yang disampaikan ke anak adalah : kamu bisa menyampaikan atau mendapatkan keinginan dengan cara yang benar, bukan dengan berteriak atau menangis.  Sampaikan berulang ulang dalam setiap kesempatan.
Anakpun akan belajar bahwa Tantrum atau ngamuk bukan cara yang tepat untuk mendapatkan keinginan.   
Bagaimana kalau di tempat umum ?
Angkat, pindahkan ke tempat sepi. Tetap tenang. Jika tidak berhasil , bawa pulang tapi jangan dimarahi atau pakai kekerasan.  Yang paling berat pada orang tua adalah mengatasi rasa malu. Empati pada orang tua  lain memang penting. Tunjukkan lewat senyum simpatik. Atasi anak Tantrum dengan bijak. 

Lantas bagaimana khabar Nina sekarang?  Alhamdulillah setelah bekerjasama dengan semua Pendidik yang ada di lembaga,  saat ini Tantrum yang dialami  Nina sudah jauh berkurang bahkan Nina sudah bisa mengungkapkan keinginannya tanpa menangis, bersabar dalam menunggu giliran tidak harus jadi yang pertama,tidak mudah menangis saat teman mengajak bercanda,  berangkat sekolah tanpa harus bernegosiasi dengan bundanya. Menyapa semua pendidik dengan senyum manisnya. 





**Sumber berdasar riset penulis

Tidak ada komentar:

Posting Komentar